Kamis, 14 November 2013

HOPES AND FEARS | Bestrizal Besta solo exhibition

15 NOPEMBER 2013

PEMBUKAAN PAMERAN TUNGGAL BESTRIZAL BESTA
'ASA DAN CABAR | HOPES AND FEARS'


Putiah manahan sasah, hitam manahan tapo.
Petatah-petitih masyarakat Minang.

Berkenaan dengan karya-karya gambar dan lukisan yang sepenuhnya hitam-putih di Indonesia, penulis dan kritikus Sanento Yuliman pernah menjelaskan bahwa: “Kebanyakan pelukis, tentu saja, ada waktunya membuat coretan hitam putih, terutama sebagai sketsa catatan dan sketsa rancangan lukisan. Bahkan tidak sedikit karya selesai (tidak dimaksud sebagai catatan atau rancangan, atau latihan) yang memang hitam-putih. Dalam keadaan bahan lukis susah didapat atau tak terjangkau seperti di masa lalu, karya hitam-putih mempunyai cukup popularitas di kalangan pelukis. Masa 1950-1960 barangkali dapat dicatat sebagai masa subur hitam-putih dalam seni lukis kita.”

Yang ia maksud dengan hitam-putih dalam seni lukis itu adalah karya-karya yang sepenuhnya mengandalkan bahan pewarna hitam (tinta, arang, pensil dan yang sejenis) yang diterakan ke bidang putih (kertas, kanvas, kain yang bernuansa warna putih, terang). Setelah angkatan Satyagraha yang diulas Sanento Yuliman dalam kutipan di atas, sampai sekarang sesungguhnya ada sejumlah seniman Indonesia yang cukup sering melibatkan bahan arang dalam karya mereka. Kita pernah melihatnya pada karya Arahmaiani dan Agus Suwage, misalnya. Juga, Tisna Sanjaya dan Agung Kurniawan dalam berbagai karya cetak grafis, gambar maupun lukisan, cukup sering menggunakan bahan arang (pensil, batang, ataupun serbuk).

Dari generasi yang lebih muda kita dapat menyaksikan sejumlah gambar atau lukisan arang di atas kanvas karya R.E. Hartanto. Juga Titarubi belakangan ini menghadirkan sejumlah karyanya yang berbahan arang, baik instalasi maupun gambar. Sementara yang lain, misalnya J. Ariadithya Pramuhendra, tekun menghadirkan karya-karya lukis hitam-putih berbahan arang di atas kertas maupun kanvas. Dan, tentu saja, Bestrizal Besta, yang dalam beberapa tahun terakhir ini tampak juga khusyuk mendalami bahan arang untuk membuat karya gambar dan lukisan-lukisannya.

Kita tahu bahwa arang adalah bahan untuk menggambar yang tergolong purba, kalau bukan salah satu yang paling awal dikenal peradaban manusia. Gambar-gambar di dinding gua dari masa ribuan tahun lalu jelas menunjukkan perkenalan manusia purba dengan arang sebagai bahan untuk menggambar. Kesederhanaan dan kelugasan bahan ini, yang begitu mudah dan cepat meninggalkan bekas, bercak dan tanda—apalagi di permukaan bewarna terang—tampaknya selalu menggoda seniman yang hendak segera menerakan suatu citraan tertentu untuk mencatat atau mengungkapkan gagasan. Sementara kepekatan hitamnya dapat menghadirkan sebidang kegelapan yang seolah menyimpan rahasia, enigmatik, sebentuk ruang kelam berpuaka. Tak heran, jika memang banyak karya-karya hitam-putih berisi tema dan kisah yang membawa kesan muram, menghembuskan suasana remang dan gamang. Bahan arang yang sederhana itu, dengan pemanfaatan yang tepat dan baik, ternyata dapat merentang nuansa yang luas, dari putih terang bidang gambar sampai pada kegelapan yang pekat. Inilah bentangan ruang luas tempat perupa bisa asyik-masyuk menggores dan mengusapkan arang.

* * *

Ini adalah pameran tunggal ke-dua Bestrizal Besta di Semarang Gallery. Yang pertama, Changes, berlangsung dua tahun lalu, 2011, juga menampilkan karya-karya hitam-putih di atas kertas dan kanvas.

Kita akan menyaksikan bahwa karya-karya dalam pameran itu masih menampakkan jejak serta kelanjutannya dalam sejumlah karya di pameran kali ini. Tema-temanya masih juga berpusar sekitar renungan dan pemikiran Besta mengenai sikap dan nilai yang diperolehnya dari berbagai peristiwa dan pengalaman hidup. Ia juga masih menghadirkan sosok anaknya sebagai model utama. Bedanya, jika dalam pameran sebelumnya ia meminta anak bungsunya Farros—kini berusia 9 tahun—menjadi model utama, maka kali ini justeru putera sulungnya Zaki—sekarang 11 tahun—mengambil peran itu.

Lebih jauh lagi, dari unsur-unsur simbolik yang hadir dalam karyanya kali ini, kita berhadapan dengan renungan dan pemikiran Besta yang tampak makin kompleks dalam upayanya memahami dan memaknai pengalaman kehidupan. Jika pada pameran sebelumnya dapat kita perkirakan bahwa ia sedang berusaha menghayati perubahan dalam perjalanan dan pengalaman hidup sebagai sesuatu yang jamak dan alamiah, maka kini ia berupaya mengenali dan menerima kenyataan bahwa perkara kehidupan sesungguhnya juga memiliki sejumlah ketegangan dan konflik yang dapat menghadirkan sisi gelap manusia. Persoalan dan pengalaman hidup dalam karya-karyanya kali ini menghadirkan harapan sekaligus kecemasan, semangat hidup dan ketakutan, atau keriangan dan frustasi saat berhadapan dengan berbagai kemungkinan masa datang yang tidak terduga. Pengalaman hidup yang terentang antara tarikan asa dan cabar.

Manusia menjalani hidup dengan sejumlah kecemasan dan ketakutan adalah hal yang wajar, sejauh ia tidak terbenam didalamnya atau terbawa hanyut begitu saja. Disinilah harapan berperan sebagai tiang pancang yang bisa dipegang saat bimbang, dijangkau saat ragu. Namun, orang tentu tidak bisa sekedar menggantung dan menggantang asa, tanpa berupaya mewujudkannya melalui pergulatan kerja. Namun kerja dan usaha jugalah yang justeru mempertemukan harapan dengan kecemasan atau ketakutan akan kemungkinan gagal. Inilah kiranya pokok pesan dalam karya-karya Besta kali ini.

Kita menerima pesan-pesan ini saat kita menyaksikan kehadiran sosok seorang anak menjelang remaja yang jadi tokoh utama dalam berbagai adegan yang tampil di bidang lukisan-lukisan ini. Kita bisa menduga bahwa pesan-pesan ini adalah pengejawantahan asa dan cabar orang tua terhadap anaknya. Namun pada kesempatan lain, kita juga bisa menerima bahwa sosok anak ini sekaligus adalah wakil kehadiran subyektif sang seniman sendiri dalam karya-karyanya. Dalam suatu kesempatan berbincang-bincang saat menyiapkan pameran ini, Besta sendiri tidak menolak bahwa kehadiran sosok anak-anaknya dalam karyanya juga mewakili berbagai masalah dan pemikirannya sendiri.

Pergulatan manusia dalam kehidupan nyata dengan segala pilihan nilai dan moralitasnya mendapatkan suasana perupaan yang tepat dalam nuansa warna hitam-putih. Karya-karya ini memang tidak sedang menguarkan keceriaan atau keriangan, tapi keheningan permenungan atas sisi remang dan gelap manusia. Cara pandang Besta kali ini tampak cenderung menerima bahwa sisi kehidupan bisa saja jadi serba muram. Dalam “Lord of the Time” (2013), ia hadirkan sosok yang tampak berdiri tegak menutupi wajahnya sendiri dengan sebongkah tengkorak. Dihadapannya, sebidang permukaan meja panjang—menyerupai tampilan bidang meja dalam berbagai versi lukisan ‘Perjamuan Terakhir’ yang terkenal itu—tertata berbagai benda yang mengingatkan kita pada kekerasan dan kekejaman perang, kedigdayaan laskar perang. Di antara helm tempur, topeng penangkal gas dan topi sang jenderal hadir juga segelas anggur dan sepotong daging iga di atas piring. Kita jadi terpana dan bertanya: apakah kita sedang menyaksikan pesta perayaan kepongahan sang Pemenang, berhiaskan tengkorak musuhnya yang sudah menemui ajal?

Karya ini adalah contoh yang nyata bisa membawa kita pada berbagai kegelisahan Besta saat berhadapan dengan berbagai gejala dan peristwa dalam kehidupan sehari-hari. Maka ia berusaha mengingatkan kita pada ketaksaan sifat dan sikap manusia. Di satu jalur, manusia dapat berupaya berserah diri, memuliakan kuasa Illahi dan mengagungkan nilai kemanusiaan. Namun pada saat yang sama watak buas dan ganasnya masih juga terus mengiringi. Orang bahkan bisa menyembunyikan kebengisannya di balik ritual agama. Pesan semacam ini juga dapat kita reka dan kita cerna saat berhadapan dengan lukisan “My Self” (2013) dan “Saya dan Engkau” (2013). Yang belakangan ini, menghadirkan sosok anak yang berdiri tegak di suatu ruangan, semacam gudang atau tempat persembunyian yang gelap. Tangan kanannya—mengulang pose dalam “Lord of the Time”—mengangkat sebongkah tegkorak hewan bertanduk, menutupi wajahnya. Suasana serba temaram membuat tengkorak ini seolah menjadi wajah dan kepala sosok tadi, menjadikan dirinya hadir bagai mahluk hibrida yang menyeramkan, campuran manusia dan binatang, yang muncul dari kegelapan khasanah mitologi.

Sementara suasana dan pesan tentang harapan dapat kita temui dalam karya “Discovery” (2013). Berbagai tunas dan tangkai yang terbebat di kepala si anak tampak sebagai upaya untuk mengakui bahwa daya hidup adalah daya untuk tumbuh. Atau tepatnya, hidup adalah soal kemampuan akal dan kecerdasan untuk menemukan tempat-tempat baru agar bisa terus bertunas dan tumbuh. Pesan senada mengenai perjalanan kehidupan manusia, dan juga kerapuhannya, tampil dalam karya “Time After Time” (2013) dengan sosok anak yang berbaring tenang di atas tumpukan dedaunan kering. Sementara pada “Born Again” (2013) harapan disisipkan pada kisah bersuasana fabel: si Kambing yang lemah bisa saja mengalahkan si Serigala ganas dan jahat.

Di sejumlah lukisan, untuk memperkuat dan memperjelas pesan-pesannya, Bestrizal Besta menambahkan penggalan kalimat-kalimat yang ditulis secara berulang, menjadi bagian dari tampilan benda atau bidang tertentu dalam lukisannya. Pada “Garis dan Arah” dan “Self Confident”, peran kalimat dan tulisan ini ia ganti dengan tampilan lembar-lembar kertas pesan tempel, sticky notes, berisi bermacam simbol dan tanda.

* * *

Semua pesan atau petikan kisah dalam karya-karya Besta kali ini menunjukkan sifat-sifat gambar ilustratif. Ia tampak sengaja melakukan perupaan yang serba nyata dan tertata dengan membubuhkan berbagai benda untuk bersanding dan berperan bersama tokoh utamanya, sang anak. Dengan cara itu, setiap lembar lukisan tampak disiapkan untuk bisa mewakili fragmen cerita tertentu. Pendekatan ini boleh jadi juga bersumber dari pengalaman kerja dan kesadaran kreatif Besta yang terbentuk selama masa-masa sebelumnya saat ia bekerja sebagai ilustrator dan perancang papan iklan (billboards).

Di kemudian hari, setelah mulai akrab berkenalan dengan piranti komputer, ia makin piawai menyiapkan berbagai rancangan lukisannya dalam penataan yang rapi menggunakan berbagai perangkat lunak pengolah gambar dan foto. Hampir semua lukisan yang kita saksikan dalam pameran ini memang merujuk pada rancangan yang telah ia tata sedemikian rupa dengan perangkat lunak tadi. Ini kiranya memungkinkan ia memilih dan memilah unsur rupa macam apa saja yang bisa ia padukan untuk bisa mewakili pesan dan kisah tertentu.

Prosedur ini tentu saja juga membantunya untuk mengatasi kemungkinan salah coret saat mulai menorehkan arang pada kanvas. Kita tahu bahwa bubuk arang sangat mudah membekas, apalagi pada bidang kanvas yang putih. Persiapan dan rencana yang matang adalah jaminan untuk dapat mengolah arang di atas kanvas dengan cara yang rapi dan memuaskan. Hampir semua seniman yang sering bekerja dengan arang cenderung mengatakan bahwa watak arang meminta si seniman meluruhkan diri bersama serbuk arang, berserah diri pada kehendak arang yang demikian mudah dan kuat menerakan bekas dan tanda di atas bidang gambar.

Namun demikian, ada soal yang mungkin lebih penting: Bagaimanakah Besta sampai pada sejumlah karya lukisan yang mempersoalkan berbagai masalah sikap dan nilai tindakan manusia dalam kehidupan ini?

Ada beberapa kemungkinan yang bisa kita ajukan di sini. Tentu saja kemungkinan-kemungkinan ini tidaklah terpisah saling berdiri sendiri. Lebih masuk akal jika kita menerima bahwa selalu ada unsur dari masing-masing kemungkinan, dengan kadar yang berbeda-beda, yang jadi bagian dari pusa (motivasi, dorongan) sang seniman.


Kemungkinan pertama, adalah bahwa Besta memenuhi fitrah kebudayaan seniman Indonesia, yang memang memperlakukan kerja seni dan karya seni sebagai upaya untuk bergulat dengan persoalan moral, baik bagi dirinya sendiri atau juga untuk disampaikan pada orang lain, pemirsanya, masyarakatnya. Di sini saya merujuk pada pemikiran yang sering diajukan oleh penulis dan kritikus seni rupa terkemuka Jim Supangkat di berbagai kesempatan. Melalui kajian dan uraiannya yang mengulas perbedaan dasar sejarah dan kebudayaan antara seni rupa Barat dan Indonesia, Jim Supangkat sampai pada kesimpulan bahwa di Barat landasan filsafat kerja kesenian menuju pada pencarian kebenaran hakiki (absolute truth), sedangkan di Indonesia—berdasarkan pada prinsip kagunan, misalnya—yang disasar adalah kebenaran (rightness), semacam ketepatan ‘sikap moral’ di ruang lingkup hubungan seseorang dengan komunitas atau masyarakatnya.

Kemungkinan kedua, kita bisa memasukkan unsur latarbelakang sosial-budaya Bestrizal Besta yang lahir dan dibesarkan di Padang, Sumatera Barat, di lingkungan keluarga dan masyarakat Minangkabau. Kita ketahui bahwa nilai-nilai perilaku sosial orang Minangkabau secara umum masih kuat mengacu pada adat, dan sekaligus juga syariah Islam. Pengantar ini tidak bermaksud dan juga tidak mungkin memadai untuk mengulas urusan yang pelik ini. Cukuplah jika soal ini disinggung sekedar untuk menyatakan bahwa ada tradisi sastra lisan yang kuat—bagian penting dari adat-istiadat Minangkabau—yang memungkinkan orang Minang terbiasa saling menularkan dan meneruskan nilai-nilai moral dari ajaran adat dan agama melalui petatah-petitih, pantun, fabel, dan lain-lain. Adat dan kebiasaan ini memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang yang mampu menyampaikan berbagai pesan dan ajaran moral dalam berbagai bentuk perumpamaan atau kiasan yang menarik. Maka, setiap orang yang telah memetik pelajaran berharga dari pengalaman hidupnya sendiri dapat menuturkan pesan-pesan yang ia anggap penting melalui berbagai perumpamaan, kiasan, alusi.

Kemungkinan yang ketiga, seperti dengan jujur dikemukakan Besta, adalah soal kepekaan dalam memetik pelajaran yang diperoleh dari pergulatan dengan soal kehidupan sehari-hari, sebagai seniman, suami, orangtua, juga anggota masyarakat. Artinya, Besta sama saja seperti rata-rata kita semua. Itulah sebabnya ia berusaha menampilkan soal-soal ini senyata mungkin dalam lukisan-lukisannya, hanya mengandalkan nuansa hitam-putih. Tapi pelajaran dan pesan yang ia sampaikan justeru ingin menegaskan bahwa hidup selalu penuh dengan segala kemungkinan dan tidak dapat diringkus atau diringkas jadi pilihan sederhana: hitam atau putih.

Di hadapan karya-karya Besta kita memang tidak sedang berhadapan dengan ‘Sejarah’ yang obyektif, tapi ‘sejarah-sejarah subyektif’. Di ruang yang terentang antara harapan dan kecemasan, setiap orang memilin pengalaman, menganyam nilai-nilai, dan membangun makna hidupnya masing-masing, dengan cara yang berbeda-beda. Dari pertukaran kisah dan pengalaman semacam ini pula kita memperkaya pemahaman dan pengetahuan kita akan kehidupan dan kemanusiaan kita. Dan dengan itu, kita punya berbagai bahan pertimbangan untuk menentukan arah dan tujuan hidup.

Enin Supriyanto
© 09.2013

Link : https://www.facebook.com/events/1393843637521634

PRASTYANING TRAH GANGGA

15 NOPEMBER 2013

PRASTYANING TRAH GANGGA

Sepenggal kisah dalam epik Bharatayudha
Asmara terhalang janji sang mahadwija

Persembahan dari UKM Kesenian Jawa
Gedung Kesenian Ki Narto Sabdho
Taman Budaya Raden Saleh Semarang
Pkl. 19:00 WIB - selesai

Tiket :
VIP Rp.20.000,-
Reguler Rp.15.000,-

Contact Person :
- Indah 0899 797 5050
- Tiara 081 320 363 684

MANDAU TALAWANG MUDA

15 NOPEMBER 2013

MANDAU TALAWANG MUDA
Kolaborasi teater-tari mandau (adat Dayak Kalteng)

Gedung B106 FBS Unnes
Pkl. 19:30 WIB

HTM Rp.10.000,-

Pemain : Estriyani, David Natalindo, Dehyang Putri
Koreo, musik, make-up, kostum : Jahmadi
Artistik : Asobiron dkk
Sutradara : Babahe
Pimpinan produksi : Mulyadin


Kerja bareng :
Lab Teater Usmar Ismail
Teater SS
Jurusan Bahasa dan Sastra FBS Unnes
Teater Simpai, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah