Tampilkan postingan dengan label semarang gallery. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semarang gallery. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2015

MODUS | Pameran Bersama

15 AGUSTUS 2015

M O D U S

a group exhibition by
Asosiasi Pematung Indonesia (API)

On Saturday, August 15, 2015 at 7 PM

curator
Rain Rosidi

Venue:
Semarang Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Semarang 50174
T. +62 24 355 2099 F. +62 24 355 2199
galeri_semarang@yahoo.com www.galerisemarang.com

opening hours: Tuesday - Sunday, 10.00 am - 4.30 pm
The exhibition runs until October 18, 2015

Semarang Contemporary Art Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6
Semarang 50174 - Indonesia
T. +62 24 355 2099 F. +62 24 355 2199
galeri_semarang@yahoo.com
www.galerisemarang.com
FB: Semarang Gallery
IG: semarang_gallery

Selasa, 16 Juni 2015

DIRECTING SS 101 | a solo exhibition by Aan Arief

20 JUNI 2015

DIRECTING SS 101
a solo exhibition by Aan Arief

Mengubah Arahan, Menggubah Sejarah

Sekira 5 tahun terakhir, Aan Arief telah memanfaatkan pendekatan apropriasi sebagai metode kreatifnya dan mengembangkan teknik-artistik berupa tarikan kuas horisontal di kanvas.

Dengan pendekatan dan teknik-artistik itu, Aan menemukan “momen kebenaran” untuk melakukan studi penciptaan atas hayat dan karya S. Sudjojono laiknya “sutradara” yang membesut “film dokumenter.” Itu sebabnya pameran ini berjudul “Directing SS 101.” Harap diingat, “SS 101” adalah kode eksistensial Sudjojono yang tersurat di hampir setiap lukisannya.

Dengan itu Aan pun insaf bahwa 15 lukisannya dalam pameran ini merupakan laku-ubah-daya cipta yang belum-sudah untuk menggubah sejarahnya sendiri.

Pkl.19:00 WIB
Semarang Galeri
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Semarang

Link : https://www.facebook.com/events/418142485057392/

Selasa, 28 April 2015

NOW : Here - There - Everywhere | visual art group exhibition

2 MEI 2015

NOW : Here - There - Everywhere


A group exhibition by :

Aderi Putra Wicaksono (Pungki) - Andri 'abud' William - Ardi Gunawan - Beni Sasmito (Benzig)
Bonggal Hutagalung - Dikdik Sayahdikumullah - Erianto - M. Reggie Aquara - Mujahidin Nurrahman
Neo-Pitamaha (Gede Mahendra Yasa, Kemalezedine, Ketut Moniarta, Tang Adimawan)
Oktianita Kusmugiarti - Panca DZ - Ratu Rizkitasari Saraswati - Syagini Ratnawulan - Syaiful Giribaldi - Tara Astari Kasenda
Yaya Sung - Yogie Ahmad Ginanjar - Yudha Kusuma Putera (Fehung) - Yudi Arif Budiman - Zico Albaiquni


Curator
Rifky Effendy


Officiated by
Evelyn Mulyono
(art lover)

Opening : May 2, 2015 at 5PM
The exhibition runs until May 24, 2015


Venue:
Semarang Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Semarang 50174
T. +62 24 355 2099 F. +62 24 355 2199
galeri_semarang@yahoo.com   www.galerisemarang.com

Opening hours: Tuesday - Sunday, 10.00 am - 4.30 pm

Rabu, 17 September 2014

PAMERAN DE VROUW

19 SEPTEMBER 2014

PAMERAN DE VROUW
Semarang Contemporary Art Gallery
Jl. Taman Srigunting No. 5-6
Semarang 50174 - Indonesia
T. +62 24 355 20 99
F. +62 24 355 21 99
galeri_semarang@yahoo.com
www.galerisemarang.com
facebook: Semarang Art

Kamis, 27 Februari 2014

PEMBUKAAN PAMERAN 'SANG STRUKTURALIS'

7 MARET 2014

PEMBUKAAN PAMERAN 'SANG STRUKTURALIS'


Semarang Gallery
Jl Taman Srigunting No. 5-6 Semarang 50174
Pembukaan : Jumat, 7 Maret 2014 pkl. 19:00 WIB
Pameran : 7 - 21, 2014

Setelah menguasai teknik dasar melukis,
biasanya seorang perupa selalu tergoda
untuk melakukan eksperimen-eksperimen
lebih lanjut sebagai jawaban atas tantangan kreatifitas
dalam karyanya. Entah eksperimen itu ada
pada mediumnya atau pengembangan lebih lanjut
dari teknik yang sudah dikuasainya.

Kali ini Semarang Gallery memamerkan karyakarya
5 orang perupa yang bisa mewakili kecenderungan
yang saya sebut di atas. Mereka kebetulan
berasal dari beberapa daerah dan lulusan dari
beberapa Institusi Seni yang berbeda.

Agus Trianto BR, seorang perupa langganan
juara dalam lomba-lomba dan pernah menyabet
penghargaan Karya Terbaik Akili Museum
Art Award 2008, adalah lulusan ISI Jogjakarta.
Cukup lama saya mengikuti perkembangan
kesenimanannya sejak saya pertama mengoleksi
karyanya pada tahun 2006.
Kemudian Erianto yang berasal dari Paladangan
Agam, Sumatra Barat yang saya kenal sejak dia
hijrah ke Jogjakarta untuk menempuh gelar S2-
nya di ISI Jogjakarta, sekitar tahun 2010 silam.
Sedang Isa Ansory adalah perupa dari Batu, Jawa
Timur lulusan S1 Seni Rupa IKIP Malang. Saya tertarik
dengan semangat dan kegigihannya dalam
berkarya sehingga kita bisa melihat perkembangan
karyanya akhir-akhir ini cukup menarik.
Adapun Aan Arief yang akhir-akhir ini melejit setelah
karyanya “ Perahu Meduza” menarik banyak
pemirsa pada Artjog tahun lalu. Aan berasal dari Jogja
dan pernah menempuh studi di Fakultas Seni Rupa ISI
Jogjakarta.
Yang terakhir dan paling muda adalah Ahdiyat,
lulusan ITB Bandung tahun 2013. Teknik arangnya
cukup menjanjikan.

Ke lima perupa yang tampil dalam pameran ini
sangat menguasai teknik realis sebagai teknik
dasar melukis mereka. Dalam perkembangan
selanjutnya, dengan kecakapan skill realis, mereka
bereksperimen lebih jauh dengan medium
maupun teknik presentasinya. Rata-rata mereka
memakai foto sebagai bahan konsep perupaannya,
tetapi karya-karya mereka sama sekali tidak
berkesan seperti sedang melukis potret, menyalin
foto, meniru foto dan tidak sekedar memindahkan
foto di atas kanvas. Misalnya Aan Arief yang
sengaja membesut-besutkan kuas pada beberapa
bagian dari karyanya selagi cat masih basah. Efek
yang didapat berkesan seperti teknik impresionis
dan sangat khas Aan Arief. Sedang Agus lebih
kepada menambah jlebretan-jlebretan cat atau
lelehan-lelehan cat yang berkesan mengganggu
teknis realis pada obyek karyanya, sehingga menambah
kesan artistik pada karyanya. Isa Ansory
berusaha menggabungkan kecakapan melukis
realis pada tubuh manusia dengan melukis sobekan
sobekan kertas yang berkesan seperti kolase.
Erianto bermain-main dengan medium. Menciptakan
benda-benda tiga dimensi tiruan yang berhubungan
dengan perabotan melukis yang selama ini kita anggap
tidak penting, semisal kotak kayu
packing lukisan, pipa pralon sebagai packing
lukisan yang digulung. Semua imajinasi mengenai
benda-benda tadi divisualkan dengan teknis realis
yang prima sehingga sepintas kita akan terkecoh.
Kanvas-kanvas yang dilukis itu persis seperti
kayu atau triplex aslinya. Daya kejut inilah yang
menjadikan karya-karya Erianto menjadi segar
dan menarik. Mengangkat benda-benda yang
selama ini kita anggap sepele dan menjadikannya
sebagai obyek yang menarik karena imbuhan
teknik melukisnya yang handal. Sedang Ahdiyat
menerima tantangan medium charcoal atau arang
untuk mewujudkan karya realisnya. Tidak banyak
perupa yang menggunakan teknik arang karena
teknik ini dikenal amat sulit.
Semua yang dilakukan oleh para perupa ini adalah
satu gambaran kreatifitas bagi perupa-perupa
dalam rangka mengangkat reputasi dan mencari
jati diri serta memenangkan persaingan dalam
percaturan dunia seni rupa sekarang. Soal hasilnya
silahkan para penikmat yang menghakiminya.

Terima kasih kepada ke lima perupa yang berpameran
dan kurator Wahyudin yang menyiapkan
pameran ini. Selamat menikmati.

Semarang, Maret 2014

Semarang Gallery
Jl Taman Srigunting No. 5-6 Semarang 50174 Indonesia
T. +62 24 355 2099
F. +62 24 355 2199
galeri_semarang@yahoo.com

Link : http://www.galerisemarang.com/

Kamis, 14 November 2013

HOPES AND FEARS | Bestrizal Besta solo exhibition

15 NOPEMBER 2013

PEMBUKAAN PAMERAN TUNGGAL BESTRIZAL BESTA
'ASA DAN CABAR | HOPES AND FEARS'


Putiah manahan sasah, hitam manahan tapo.
Petatah-petitih masyarakat Minang.

Berkenaan dengan karya-karya gambar dan lukisan yang sepenuhnya hitam-putih di Indonesia, penulis dan kritikus Sanento Yuliman pernah menjelaskan bahwa: “Kebanyakan pelukis, tentu saja, ada waktunya membuat coretan hitam putih, terutama sebagai sketsa catatan dan sketsa rancangan lukisan. Bahkan tidak sedikit karya selesai (tidak dimaksud sebagai catatan atau rancangan, atau latihan) yang memang hitam-putih. Dalam keadaan bahan lukis susah didapat atau tak terjangkau seperti di masa lalu, karya hitam-putih mempunyai cukup popularitas di kalangan pelukis. Masa 1950-1960 barangkali dapat dicatat sebagai masa subur hitam-putih dalam seni lukis kita.”

Yang ia maksud dengan hitam-putih dalam seni lukis itu adalah karya-karya yang sepenuhnya mengandalkan bahan pewarna hitam (tinta, arang, pensil dan yang sejenis) yang diterakan ke bidang putih (kertas, kanvas, kain yang bernuansa warna putih, terang). Setelah angkatan Satyagraha yang diulas Sanento Yuliman dalam kutipan di atas, sampai sekarang sesungguhnya ada sejumlah seniman Indonesia yang cukup sering melibatkan bahan arang dalam karya mereka. Kita pernah melihatnya pada karya Arahmaiani dan Agus Suwage, misalnya. Juga, Tisna Sanjaya dan Agung Kurniawan dalam berbagai karya cetak grafis, gambar maupun lukisan, cukup sering menggunakan bahan arang (pensil, batang, ataupun serbuk).

Dari generasi yang lebih muda kita dapat menyaksikan sejumlah gambar atau lukisan arang di atas kanvas karya R.E. Hartanto. Juga Titarubi belakangan ini menghadirkan sejumlah karyanya yang berbahan arang, baik instalasi maupun gambar. Sementara yang lain, misalnya J. Ariadithya Pramuhendra, tekun menghadirkan karya-karya lukis hitam-putih berbahan arang di atas kertas maupun kanvas. Dan, tentu saja, Bestrizal Besta, yang dalam beberapa tahun terakhir ini tampak juga khusyuk mendalami bahan arang untuk membuat karya gambar dan lukisan-lukisannya.

Kita tahu bahwa arang adalah bahan untuk menggambar yang tergolong purba, kalau bukan salah satu yang paling awal dikenal peradaban manusia. Gambar-gambar di dinding gua dari masa ribuan tahun lalu jelas menunjukkan perkenalan manusia purba dengan arang sebagai bahan untuk menggambar. Kesederhanaan dan kelugasan bahan ini, yang begitu mudah dan cepat meninggalkan bekas, bercak dan tanda—apalagi di permukaan bewarna terang—tampaknya selalu menggoda seniman yang hendak segera menerakan suatu citraan tertentu untuk mencatat atau mengungkapkan gagasan. Sementara kepekatan hitamnya dapat menghadirkan sebidang kegelapan yang seolah menyimpan rahasia, enigmatik, sebentuk ruang kelam berpuaka. Tak heran, jika memang banyak karya-karya hitam-putih berisi tema dan kisah yang membawa kesan muram, menghembuskan suasana remang dan gamang. Bahan arang yang sederhana itu, dengan pemanfaatan yang tepat dan baik, ternyata dapat merentang nuansa yang luas, dari putih terang bidang gambar sampai pada kegelapan yang pekat. Inilah bentangan ruang luas tempat perupa bisa asyik-masyuk menggores dan mengusapkan arang.

* * *

Ini adalah pameran tunggal ke-dua Bestrizal Besta di Semarang Gallery. Yang pertama, Changes, berlangsung dua tahun lalu, 2011, juga menampilkan karya-karya hitam-putih di atas kertas dan kanvas.

Kita akan menyaksikan bahwa karya-karya dalam pameran itu masih menampakkan jejak serta kelanjutannya dalam sejumlah karya di pameran kali ini. Tema-temanya masih juga berpusar sekitar renungan dan pemikiran Besta mengenai sikap dan nilai yang diperolehnya dari berbagai peristiwa dan pengalaman hidup. Ia juga masih menghadirkan sosok anaknya sebagai model utama. Bedanya, jika dalam pameran sebelumnya ia meminta anak bungsunya Farros—kini berusia 9 tahun—menjadi model utama, maka kali ini justeru putera sulungnya Zaki—sekarang 11 tahun—mengambil peran itu.

Lebih jauh lagi, dari unsur-unsur simbolik yang hadir dalam karyanya kali ini, kita berhadapan dengan renungan dan pemikiran Besta yang tampak makin kompleks dalam upayanya memahami dan memaknai pengalaman kehidupan. Jika pada pameran sebelumnya dapat kita perkirakan bahwa ia sedang berusaha menghayati perubahan dalam perjalanan dan pengalaman hidup sebagai sesuatu yang jamak dan alamiah, maka kini ia berupaya mengenali dan menerima kenyataan bahwa perkara kehidupan sesungguhnya juga memiliki sejumlah ketegangan dan konflik yang dapat menghadirkan sisi gelap manusia. Persoalan dan pengalaman hidup dalam karya-karyanya kali ini menghadirkan harapan sekaligus kecemasan, semangat hidup dan ketakutan, atau keriangan dan frustasi saat berhadapan dengan berbagai kemungkinan masa datang yang tidak terduga. Pengalaman hidup yang terentang antara tarikan asa dan cabar.

Manusia menjalani hidup dengan sejumlah kecemasan dan ketakutan adalah hal yang wajar, sejauh ia tidak terbenam didalamnya atau terbawa hanyut begitu saja. Disinilah harapan berperan sebagai tiang pancang yang bisa dipegang saat bimbang, dijangkau saat ragu. Namun, orang tentu tidak bisa sekedar menggantung dan menggantang asa, tanpa berupaya mewujudkannya melalui pergulatan kerja. Namun kerja dan usaha jugalah yang justeru mempertemukan harapan dengan kecemasan atau ketakutan akan kemungkinan gagal. Inilah kiranya pokok pesan dalam karya-karya Besta kali ini.

Kita menerima pesan-pesan ini saat kita menyaksikan kehadiran sosok seorang anak menjelang remaja yang jadi tokoh utama dalam berbagai adegan yang tampil di bidang lukisan-lukisan ini. Kita bisa menduga bahwa pesan-pesan ini adalah pengejawantahan asa dan cabar orang tua terhadap anaknya. Namun pada kesempatan lain, kita juga bisa menerima bahwa sosok anak ini sekaligus adalah wakil kehadiran subyektif sang seniman sendiri dalam karya-karyanya. Dalam suatu kesempatan berbincang-bincang saat menyiapkan pameran ini, Besta sendiri tidak menolak bahwa kehadiran sosok anak-anaknya dalam karyanya juga mewakili berbagai masalah dan pemikirannya sendiri.

Pergulatan manusia dalam kehidupan nyata dengan segala pilihan nilai dan moralitasnya mendapatkan suasana perupaan yang tepat dalam nuansa warna hitam-putih. Karya-karya ini memang tidak sedang menguarkan keceriaan atau keriangan, tapi keheningan permenungan atas sisi remang dan gelap manusia. Cara pandang Besta kali ini tampak cenderung menerima bahwa sisi kehidupan bisa saja jadi serba muram. Dalam “Lord of the Time” (2013), ia hadirkan sosok yang tampak berdiri tegak menutupi wajahnya sendiri dengan sebongkah tengkorak. Dihadapannya, sebidang permukaan meja panjang—menyerupai tampilan bidang meja dalam berbagai versi lukisan ‘Perjamuan Terakhir’ yang terkenal itu—tertata berbagai benda yang mengingatkan kita pada kekerasan dan kekejaman perang, kedigdayaan laskar perang. Di antara helm tempur, topeng penangkal gas dan topi sang jenderal hadir juga segelas anggur dan sepotong daging iga di atas piring. Kita jadi terpana dan bertanya: apakah kita sedang menyaksikan pesta perayaan kepongahan sang Pemenang, berhiaskan tengkorak musuhnya yang sudah menemui ajal?

Karya ini adalah contoh yang nyata bisa membawa kita pada berbagai kegelisahan Besta saat berhadapan dengan berbagai gejala dan peristwa dalam kehidupan sehari-hari. Maka ia berusaha mengingatkan kita pada ketaksaan sifat dan sikap manusia. Di satu jalur, manusia dapat berupaya berserah diri, memuliakan kuasa Illahi dan mengagungkan nilai kemanusiaan. Namun pada saat yang sama watak buas dan ganasnya masih juga terus mengiringi. Orang bahkan bisa menyembunyikan kebengisannya di balik ritual agama. Pesan semacam ini juga dapat kita reka dan kita cerna saat berhadapan dengan lukisan “My Self” (2013) dan “Saya dan Engkau” (2013). Yang belakangan ini, menghadirkan sosok anak yang berdiri tegak di suatu ruangan, semacam gudang atau tempat persembunyian yang gelap. Tangan kanannya—mengulang pose dalam “Lord of the Time”—mengangkat sebongkah tegkorak hewan bertanduk, menutupi wajahnya. Suasana serba temaram membuat tengkorak ini seolah menjadi wajah dan kepala sosok tadi, menjadikan dirinya hadir bagai mahluk hibrida yang menyeramkan, campuran manusia dan binatang, yang muncul dari kegelapan khasanah mitologi.

Sementara suasana dan pesan tentang harapan dapat kita temui dalam karya “Discovery” (2013). Berbagai tunas dan tangkai yang terbebat di kepala si anak tampak sebagai upaya untuk mengakui bahwa daya hidup adalah daya untuk tumbuh. Atau tepatnya, hidup adalah soal kemampuan akal dan kecerdasan untuk menemukan tempat-tempat baru agar bisa terus bertunas dan tumbuh. Pesan senada mengenai perjalanan kehidupan manusia, dan juga kerapuhannya, tampil dalam karya “Time After Time” (2013) dengan sosok anak yang berbaring tenang di atas tumpukan dedaunan kering. Sementara pada “Born Again” (2013) harapan disisipkan pada kisah bersuasana fabel: si Kambing yang lemah bisa saja mengalahkan si Serigala ganas dan jahat.

Di sejumlah lukisan, untuk memperkuat dan memperjelas pesan-pesannya, Bestrizal Besta menambahkan penggalan kalimat-kalimat yang ditulis secara berulang, menjadi bagian dari tampilan benda atau bidang tertentu dalam lukisannya. Pada “Garis dan Arah” dan “Self Confident”, peran kalimat dan tulisan ini ia ganti dengan tampilan lembar-lembar kertas pesan tempel, sticky notes, berisi bermacam simbol dan tanda.

* * *

Semua pesan atau petikan kisah dalam karya-karya Besta kali ini menunjukkan sifat-sifat gambar ilustratif. Ia tampak sengaja melakukan perupaan yang serba nyata dan tertata dengan membubuhkan berbagai benda untuk bersanding dan berperan bersama tokoh utamanya, sang anak. Dengan cara itu, setiap lembar lukisan tampak disiapkan untuk bisa mewakili fragmen cerita tertentu. Pendekatan ini boleh jadi juga bersumber dari pengalaman kerja dan kesadaran kreatif Besta yang terbentuk selama masa-masa sebelumnya saat ia bekerja sebagai ilustrator dan perancang papan iklan (billboards).

Di kemudian hari, setelah mulai akrab berkenalan dengan piranti komputer, ia makin piawai menyiapkan berbagai rancangan lukisannya dalam penataan yang rapi menggunakan berbagai perangkat lunak pengolah gambar dan foto. Hampir semua lukisan yang kita saksikan dalam pameran ini memang merujuk pada rancangan yang telah ia tata sedemikian rupa dengan perangkat lunak tadi. Ini kiranya memungkinkan ia memilih dan memilah unsur rupa macam apa saja yang bisa ia padukan untuk bisa mewakili pesan dan kisah tertentu.

Prosedur ini tentu saja juga membantunya untuk mengatasi kemungkinan salah coret saat mulai menorehkan arang pada kanvas. Kita tahu bahwa bubuk arang sangat mudah membekas, apalagi pada bidang kanvas yang putih. Persiapan dan rencana yang matang adalah jaminan untuk dapat mengolah arang di atas kanvas dengan cara yang rapi dan memuaskan. Hampir semua seniman yang sering bekerja dengan arang cenderung mengatakan bahwa watak arang meminta si seniman meluruhkan diri bersama serbuk arang, berserah diri pada kehendak arang yang demikian mudah dan kuat menerakan bekas dan tanda di atas bidang gambar.

Namun demikian, ada soal yang mungkin lebih penting: Bagaimanakah Besta sampai pada sejumlah karya lukisan yang mempersoalkan berbagai masalah sikap dan nilai tindakan manusia dalam kehidupan ini?

Ada beberapa kemungkinan yang bisa kita ajukan di sini. Tentu saja kemungkinan-kemungkinan ini tidaklah terpisah saling berdiri sendiri. Lebih masuk akal jika kita menerima bahwa selalu ada unsur dari masing-masing kemungkinan, dengan kadar yang berbeda-beda, yang jadi bagian dari pusa (motivasi, dorongan) sang seniman.


Kemungkinan pertama, adalah bahwa Besta memenuhi fitrah kebudayaan seniman Indonesia, yang memang memperlakukan kerja seni dan karya seni sebagai upaya untuk bergulat dengan persoalan moral, baik bagi dirinya sendiri atau juga untuk disampaikan pada orang lain, pemirsanya, masyarakatnya. Di sini saya merujuk pada pemikiran yang sering diajukan oleh penulis dan kritikus seni rupa terkemuka Jim Supangkat di berbagai kesempatan. Melalui kajian dan uraiannya yang mengulas perbedaan dasar sejarah dan kebudayaan antara seni rupa Barat dan Indonesia, Jim Supangkat sampai pada kesimpulan bahwa di Barat landasan filsafat kerja kesenian menuju pada pencarian kebenaran hakiki (absolute truth), sedangkan di Indonesia—berdasarkan pada prinsip kagunan, misalnya—yang disasar adalah kebenaran (rightness), semacam ketepatan ‘sikap moral’ di ruang lingkup hubungan seseorang dengan komunitas atau masyarakatnya.

Kemungkinan kedua, kita bisa memasukkan unsur latarbelakang sosial-budaya Bestrizal Besta yang lahir dan dibesarkan di Padang, Sumatera Barat, di lingkungan keluarga dan masyarakat Minangkabau. Kita ketahui bahwa nilai-nilai perilaku sosial orang Minangkabau secara umum masih kuat mengacu pada adat, dan sekaligus juga syariah Islam. Pengantar ini tidak bermaksud dan juga tidak mungkin memadai untuk mengulas urusan yang pelik ini. Cukuplah jika soal ini disinggung sekedar untuk menyatakan bahwa ada tradisi sastra lisan yang kuat—bagian penting dari adat-istiadat Minangkabau—yang memungkinkan orang Minang terbiasa saling menularkan dan meneruskan nilai-nilai moral dari ajaran adat dan agama melalui petatah-petitih, pantun, fabel, dan lain-lain. Adat dan kebiasaan ini memberikan penghargaan yang tinggi kepada orang yang mampu menyampaikan berbagai pesan dan ajaran moral dalam berbagai bentuk perumpamaan atau kiasan yang menarik. Maka, setiap orang yang telah memetik pelajaran berharga dari pengalaman hidupnya sendiri dapat menuturkan pesan-pesan yang ia anggap penting melalui berbagai perumpamaan, kiasan, alusi.

Kemungkinan yang ketiga, seperti dengan jujur dikemukakan Besta, adalah soal kepekaan dalam memetik pelajaran yang diperoleh dari pergulatan dengan soal kehidupan sehari-hari, sebagai seniman, suami, orangtua, juga anggota masyarakat. Artinya, Besta sama saja seperti rata-rata kita semua. Itulah sebabnya ia berusaha menampilkan soal-soal ini senyata mungkin dalam lukisan-lukisannya, hanya mengandalkan nuansa hitam-putih. Tapi pelajaran dan pesan yang ia sampaikan justeru ingin menegaskan bahwa hidup selalu penuh dengan segala kemungkinan dan tidak dapat diringkus atau diringkas jadi pilihan sederhana: hitam atau putih.

Di hadapan karya-karya Besta kita memang tidak sedang berhadapan dengan ‘Sejarah’ yang obyektif, tapi ‘sejarah-sejarah subyektif’. Di ruang yang terentang antara harapan dan kecemasan, setiap orang memilin pengalaman, menganyam nilai-nilai, dan membangun makna hidupnya masing-masing, dengan cara yang berbeda-beda. Dari pertukaran kisah dan pengalaman semacam ini pula kita memperkaya pemahaman dan pengetahuan kita akan kehidupan dan kemanusiaan kita. Dan dengan itu, kita punya berbagai bahan pertimbangan untuk menentukan arah dan tujuan hidup.

Enin Supriyanto
© 09.2013

Link : https://www.facebook.com/events/1393843637521634

Rabu, 23 Oktober 2013

MIGRASI KOLONG MEJA, solo exhibition by Hanafi

25 OKTOBER 2013

Pameran Tunggal Hanafi "Migrasi Kolong Meja", 25 Oktober 2013, pkl. 19.00 pameran dibuka oleh Emmo Italiaander...kami tunggu kedatangannya.

Rabu, 09 Januari 2013

ORArT ORET SKETSA KOTA LAMA 1

13 JANUARI 2013

ORArT ORET SKETSA KOTA LAMA 1

Dalam rangka Pameran Sketsa Lanskap Kota Lama Semarang yang akan diadakan oleh Semarang Gallery, arsiSKETur dan ORArT ORET, tiap hari Minggu pagi sebelum batas waktu engumpulan karya, ORArT ORET mengajak teman-teman untuk berburu sketsa di kawasan tersebut.
Untuk edisi Minggu, 13 Januari 2013, titik kumpul di depan gedung Bank Mandiri Jl. Mpu Tantular Semarang (dekat jembatan Berok). Dimulai pkl. 08:00 WIB.

Mari bikin sketsa yang keren! Jangan lewatkan kesempatan berpameran di Semarang Gallery!

Link : https://www.facebook.com/events/463675253695960

Minggu, 06 Januari 2013

ORArT ORET CALLS FOR SKETCH ENTRIES

6 - 27 JANUARI 2013ORArT ORET CALLS FOR SKETCH ENTRIES!

SEMARANG GALLERY bekerjasama dengan Komunitas arsiSKETur dan ORArT ORET mengundang teman-teman arsitektur dan seniman untuk ikut serta dalam PAMERAN LANSKAP KOTA LAMA SEMARANG dengan tema : ‘PELESTARIAN KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG SEBAGAI PUSAT WISATA SEJARAH JAWA TENGAH’.

Pameran akan dilangsungkan pada tanggal 9 - 23 Pebruari 2013.


Info lengkap di :
https://www.facebook.com/events/551799084838529/

Selasa, 13 November 2012

ORArT ORET 45

ORArT ORET 45 kali ini akan digelar pada hari Minggu, 18 Nopember 2012 di halaman Galeri Semarang, Jl. Taman Srigunting No. 5-6 Semarang, mulai pkl. 08:00 WIB.

Yang punya tshirt ORArT ORET dipake yaa! :)

Selain beraktifitas seperti biasanya, kita juga akan ikut mengapresiasi karya-karya seniman kontemporer Jepang, karena di Galeri Semarang baru saja dibuka pameran bersama seniman-seniman kontemporer Jepang dengan tajuk 'SHARAKU, interpreted by Japan's Contemporary Artists'.

Dan pada pkl. 10:00 WIB, kita akan ikut menonton screening film 'ONE YEAR AFTER TOHOKU DISASTER'.

Tentang pameran dan screening film bisa dilihat di sini :
- https://www.facebook.com/events/101660519998542/
- http://semarangguyub.blogspot.com/2012/11/17-nopember-2012-semarang-gallery-jalan.html
- https://www.facebook.com/groups/semarangguyub/

Seperti biasa, peralatan bawa sendiri-sendiri.
Ajak semua kenalan ya! :)

Guyub Art!

Link : https://www.facebook.com/events/382665905148919/?context=create

Kamis, 08 November 2012

SHARAKU, Interpreted by Japan’s Contemporary Artist : GROUP EXHIBITION

17 NOPEMBER 2012
Semarang Gallery
Jalan Taman Srigunting No 5-6 Semarang


SHARAKU

Interpreted by Japan’s Contemporary Artists


Toshusai Sharaku master ukiyo-e terkemuka dan terkenal diseluruh jepang serta dunia karena karya-karyanya berupa potret patung aktor kabuki. Sharaku adalah seniman yang sangat aktif di Edo (sekarang Tokyo) sekitar 200 tahun lalu, setiap karya yang ditampilkan memiliki kekuatan garis serta keahlian menggunakan warna kontras yang mengeksploitasi kemungkinan teknik secara keseluruhan seorang seniman cetak.


Pameran ini merupakan penafsiran ulang karya Sharaku oleh 28 desainer grafis Jepang dan 11 seniman yg berdiri pada sisi ekstrim lain dari Sharaku. Pendekatan yang kaya dan interpretasi personal setiap seniman dalam menghadapi karya Sharaku bukan sekedar konfirmasi ulang dari kualitas pelopor dan daya pikat seniman ukiyo-e yang tidak biasa ini. Mereka juga memberikan contoh tampilan resonansi menarik yang hadir di antara ukiyo-e, desain grafis, dan seni kontemporer.

- Pembukaan pameran & diskusi : Sabtu, 17 Nopember 2012 pkl. 19:00 WIB
- Screening film 'ONE YEAR AFTER TOHOKU DISASTER' : Minggu, 18 Nopember 2012 pkl. 10:00 & 14:00 WIB

Nama-nama peserta pameran:
Yukio Fujimoto, Takashi Fukai, Miran Fukuda, Masahiro Kiyomizu, Naofumi Maruyama, Yasumasa Morimura, Takashi Murakami, Saburo Ota, Kenjiro Okazaki, Tsuyoshi Ozawa, Akira Yagi.

Pembukaan dan screening film bisa dilihat di link dibawah.

Link :  https://www.facebook.com/events/101660519998542/